Sebuah kekuatan hadir dalam tubuh HMI untuk mencapai cita-cita luhur, yakni berjuang mewujudkan masyarakat adil makmur. Untuk cita-cita setinggi itu, HMI tentu tidak bisa melakukannya sendiri. HMI memerlukan sebuah *grand design* yang besar, konkret, dan disesuaikan dengan pola-pola zaman.
Saya kerap bertanya, mengapa hingga hari ini—sejauh perjalanan itu—bahkan indikasi masyarakat adil makmur belum juga terlihat. Apakah cita-cita tersebut masih disikapi sebatas normatif dan subjektif? Ataukah jangan-jangan ia terhambat oleh putusnya irisan “lokomotif ideologis”?
Melihat perjuangan hari ini yang semakin kompleks, tidak jarang menimbulkan pertikaian pikiran di antara kader-kader internal. Bagi mereka yang menyikapinya sebagai konflik, di situlah proses pendewasaan terjadi. Bagi mereka yang melihatnya sebagai bara kecil, di sanalah kebijaksanaan tumbuh. Satu hal yang Ayah Lafran gaungkan dalam gagasannya adalah bahwa HMI berdiri di atas semua golongan. Ini bermakna bahwa karakter kader HMI harus mampu mengambil kuasa, berkuasa, dan memberi kuasa—bukan untuk dikuasai—demi tercapainya kebahagiaan umat.
Selama diri ini masih bernapas, perjuangan adalah sebuah keniscayaan. Tidak perlu ditawar, karena harga dari sebuah perjuangan adalah pengorbanan. Melaksanakan nilai-nilai ke-HMI-an tidaklah lama, hanya sampai esok hari. Kalaupun esok aku mati, maka tugasku telah selesai.
Sudah cukup diriku yakin akan kebenaran ini. Melalui ilmu-ilmu kebenaran tersebut, bersiaplah—karena engkaulah orang berikutnya yang akan kusampaikan nilai-nilai ini.
Penulis: Naufal Dzaky Nugroho
Kader HMI Komisariat Fakultas Dakwah
Cabang Ciputat





