
SERANG – Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah atau yang biasa disapa Ratu Zakiyah menegaskan tidak akan segan-segan mencopot kepala sekolah (Kepsek) yang bermasalah dan tidak optimal dalam menjalankan kinerjanya, terutama terkait pengelolaan anggaran Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Pernyataan itu disampaikan Zakiyah saat sosialisasi budaya sekolah aman dan nyaman (BSAN) di jenjang sekolah dasar.
Zakiyah mengatakan, tidak akan segan mengeksekusi apabila menemukan Kepsek yang tidak melaksanakan kerja secara optimal.
“Karakter saya tidak pernah marah-marah karena saya memang tidak suka. Tapi ketika ada kepala sekolah yang tidak memberikan kinerjanya secara optimal tentu kita bisa eksekusi untuk kepala sekolah yang bersangkutan,” ujarnya di Swiss-Belinn Modern Cikande, Senin 28 September 2026.
Ia menyoroti masih adanya sekolah dengan fasilitas rusak yang dibiarkan, seperti jendela yang dipasangi bambu silang hingga toilet yang tidak berfungsi, padahal anggaran perawatan sudah tersedia.
“Padahal untuk sarana itu ada 20 persen dari BOS yang bisa digunakan untuk perawatan sekolah. Jangan sampai lagi saya melihat ada WC-WC yang tidak berfungsi. Jangan sampai anak-anak kita menahan untuk ke toilet sampai pulang sekolah, itu akan menimbulkan penyakit,” katanya.
Selain soal anggaran, Zakiyah juga mengingatkan pentingnya menciptakan ruang yang aman dan nyaman bagi anak-anak. Hal itu tidak bisa dilakukan hanya oleh Dinas Pendidikan, tetapi harus terintegrasi lintas sektor.
“Saya sampaikan silakan Bapak Ibu kepala sekolah untuk mensosialisasikan kepada orang tua jangan sampai anak-anak dibebaskan untuk menggunakan gawai,” jelasnya.
Kepala Dindikbud Kabupaten Serang Aber Nurhadi mengatakan, sosialisasi budaya sekolah aman dan nyaman ini menyasar 744 SD di Kabupaten Serang yang dibagi dalam empat gelombang.
“Hari ini 180-an. Jadi dari 744 itu dibagi empat gelombang. Rata-rata setiap gelombang 180-an. Ini baru pertama, besok dilanjut sampai Kamis,” ujarnya.
Pihaknya juga akan melanjutkan arahan Bupati Serang untuk mengingatkan para kepala sekolah supaya tidak main-main dalam menggunakan dana BOS.
“Kami tidak bosan-bosan dalam penggunaan anggaran BOS dikaitkan dengan budaya sekolah aman dan nyaman ini untuk bagaimana melayani, melindungi anak-anak agar merasa terjamin pendidikannya di sekolah,” katanya.
Aber menuturkan, dirinya sebagai Kepala Dinas yang paling rewel karena selalu berbicara fakta di lapangan, bahkan kerap mengunggah kondisi sekolah di TikTok.
“Saya Kepala Dinas tidak ragu untuk menegur secara langsung. Kalau diperingatkan sudah tidak mau ya sudah saja suruh mundur dari kepala sekolahnya. Karena masih banyak yang lain yang mau jadi kepala sekolah,” jelasnya.
Ia mengakui masih ada kepala sekolah yang kurang responsif dan membangkang, sehingga dirinya lebih banyak turun ke lapangan daripada duduk di kantor.
“Saya buktikan misalnya minggu ini saya datang, dua minggu kemudian saya datang lagi itu sudah pasti ada perubahan. Walaupun sejengkal ada perubahan,” paparnya.
























