PANDEGLANG – Tingginya intensitas hujan yang mengguyur wilayah Kabupaten Pandeglang belakangan ini memicu luapan air yang cukup parah. Banjir di Kecamatan Patia kembali terjadi setelah Sungai Cilemer tidak lagi mampu menampung debit air yang melimpah. Akibatnya, pemukiman warga serta lahan pertanian di sejumlah desa terendam banjir, memicu kekhawatiran mendalam bagi para petani lokal.
Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi sektor agraris di wilayah tersebut. Para petani kini dihantui ancaman gagal panen total karena tanaman padi mereka terendam air dalam waktu yang cukup lama. Salah satu titik terdampak paling parah berada di Desa Ciawi, di mana hamparan persawahan warga telah berubah menjadi lautan air selama beberapa hari terakhir.
Nasir, salah seorang petani setempat, mengungkapkan bahwa genangan air menyebabkan kerusakan masif pada tanaman padi, terutama pada lahan yang konturnya lebih rendah. Meski padi yang sudah tua atau memasuki fase menguning masih memiliki harapan untuk diselamatkan, tanaman padi yang masih muda dipastikan hancur membusuk.
Menurut catatan warga, sekitar 10 hektare lahan persawahan di satu titik saja sudah terendam air selama empat hari empat malam. Durasi ini cukup untuk menghancurkan akar tanaman padi yang baru ditanam. Nasir menaksir nilai kerugian ekonomi yang dideritanya mencapai puluhan juta rupiah, mencakup biaya operasional traktor, pupuk, bibit, hingga pengolahan lahan.
“Kalau saya kisaran kerugiannya sekitar 25 sampai 30 juta. Hampir tiap tahun gagal panen karena banjir,” ujar Nasir dengan nada pasrah saat ditemui di lokasi.
BACA JUGA: Bangga! Atlet Futsal Asal Pandeglang M. Ibnu Alan Resmi Masuk Skuad Garuda U-16
Siklus Tahunan yang Merugikan Petani Penderitaan akibat Banjir di Kecamatan Patia ini juga dirasakan oleh Nano. Petani ini memiliki sekitar 2,5 hektare lahan yang kini terendam dengan ketinggian air mencapai dua hingga dua setengah meter. Baginya, bencana ini seolah menjadi siklus tahunan yang tak terelakkan, memaksa petani untuk selalu bersiap kehilangan modal usaha mereka.
“Kalau yang sudah menguning masih mending. Tapi yang baru rampak, habis,” kata Nano menggambarkan kondisi tanaman padinya yang rusak.
Nano mengaku rasa takutnya terhadap kerugian finansial perlahan mulai terkikis karena sudah terlalu sering menghadapi kenyataan pahit ini. Namun, ia tidak menampik bahwa kenaikan biaya produksi saat ini membuat beban ekonomi petani semakin berat, terutama ketika hasil panen yang diharapkan justru lenyap ditelan luapan sungai.
Penyebab Meluapnya Sungai Cilemer Pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD-PK) Kabupaten Pandeglang terus memantau perkembangan situasi di lapangan. Acep Firmansyah, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD-PK, menyatakan bahwa cuaca ekstrem di wilayah hulu menjadi pemicu utama meluapnya Sungai Cilemer yang merendam pemukiman dan sawah.
Kapasitas drainase yang ada saat ini dianggap sudah tidak memadai untuk menampung volume air yang datang secara tiba-tiba dari wilayah hulu. Karakteristik geografis Pandeglang yang dilintasi banyak aliran sungai besar membuat wilayah hilir seperti Patia sangat rentan terhadap fluktuasi debit air.
“Kami mengimbau warga untuk selalu waspada, terutama bagi mereka yang tinggal di bantaran sungai. BPBD-PK akan terus bersiaga untuk melakukan langkah-langkah darurat jika debit air kembali meningkat secara signifikan,” ucap Acep Firmansyah.
Meluasnya dampak Banjir di Kecamatan Patia ini diharapkan segera mendapat perhatian serius terkait normalisasi sungai maupun perbaikan infrastruktur pengairan, agar kerugian besar yang diderita para petani setiap tahunnya tidak terus berulang. (red)






