NASIONAL – Banjir bandang dan tanah longsor yang kembali melanda sejumlah wilayah di Sumatra menyoroti semakin rentannya sistem hidrologi di pulau tersebut. Berdasarkan data Sistem Informasi Monitoring Nasional (NFMS/SIMONTANA) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sejak 1990 hingga 2024 tutupan hutan alam di Sumatra terus menyusut akibat konversi menjadi perkebunan sawit, pertanian lahan kering, serta hutan tanaman produksi kayu.
Senior Data and GIS Specialist Greenpeace Indonesia, Sapta Ananda Proklamasi, menuturkan bahwa konversi besar-besaran ini banyak terjadi pada hutan lahan kering sekunder dan hutan rawa, dua ekosistem penting yang berfungsi sebagai area resapan dan penyimpan air di hulu daerah aliran sungai (DAS).
“Ketika kawasan tersebut berubah menjadi perkebunan monokultur, kapasitas tanah dalam menahan air turun drastis dan limpasan permukaan meningkat saat terjadi hujan berintensitas tinggi,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (1/12/2025).
Pada mayoritas DAS di Sumatra, tutupan hutan alam kini tersisa kurang dari 25 persen, kondisi yang menempatkan fungsi hidrologi pada status kritis dan membuat wilayah hilir semakin rentan terhadap banjir bandang, erosi tanah, hingga kerusakan infrastruktur. Sisa hutan alam pun hanya bertahan di blok-blok kecil sepanjang Pegunungan Bukit Barisan dan semakin terfragmentasi, melemahkan kemampuan ekosistem hulu dalam menahan air serta menjaga stabilitas lereng. Sementara itu, ekspansi perkebunan dan hutan produksi masih berlangsung untuk memenuhi kebutuhan pasokan sawit dan kayu.
Laporan deforestasi tahun 2024 menunjukkan bahwa deforestasi bruto nasional mencapai 216,2 ribu hektare, dengan lebih dari 90 persen terjadi pada hutan sekunder. Meski sebagian wilayah kembali tercatat sebagai hutan melalui penanaman ulang, karakter hutan tanaman produksi tidak mampu menggantikan fungsi ekologis hutan alam, terutama dalam pengelolaan air dan pencegahan bencana hidrometeorologi.
Tekanan terhadap kawasan hutan dan DAS tersebut tampak dari pola bencana yang semakin sering muncul di Sumatra. Banjir bandang yang terjadi di Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara pada akhir November 2025 memperlihatkan ciri khas degradasi ekosistem: aliran air dari hulu bergerak cepat membawa kayu dan lumpur dalam volume besar, memperburuk kerusakan di permukiman dan infrastruktur.
“Kondisi ini mengindikasikan urgensi pengendalian alih fungsi hutan alam dan pemulihan ekosistem hulu sebagai langkah mitigasi risiko bencana. Tanpa intervensi yang kuat, penurunan kualitas DAS dikhawatirkan akan menyebabkan banjir bandang semakin menjadi fenomena rutin di banyak kabupaten/kota di Sumatra,” tegas Sapta. (red)






