BANTEN – Potensi pergerakan masyarakat pada Angkutan Lebaran 2026 diprediksi mengalami penurunan berdasarkan survei nasional Kementerian Perhubungan Republik Indonesia (Kemenhub RI). Meski demikian, pemerintah daerah tetap diminta meningkatkan kewaspadaan mengingat realisasi arus mudik tahun lalu justru melampaui angka yang diproyeksikan.
Demikian disampaikan Menteri Perhubungan (Menhub) RI Dudy Purwagandhi dalam Rapat Koordinasi Persiapan Angkutan Lebaran Tahun 2026 yang digelar di Pendopo Gubernur Banten, Kota Serang, Senin (16/2/2026).
Menurut Menhub Dudy, Provinsi Banten memiliki posisi yang sangat strategis dalam penyelenggaraan angkutan Lebaran. Berdasarkan survei nasional, Banten masuk lima besar daerah asal pemudik secara nasional. Tidak hanya itu, kata dia, simpul transportasi terpadat saat arus mudik dan balik juga berada di wilayah Banten, khususnya pelabuhan-pelabuhan utama yang menjadi penghubung Pulau Jawa dan Sumatera.
“Provinsi Banten memiliki posisi yang sangat strategis dalam penyelenggaraan angkutan Lebaran. Termasuk lima besar asal pemudik nasional, dan simpul terpadat yaitu pelabuhan (Merak -red) ada di wilayah Banten,” ungkapnya.
Karena itu, sinergi antara pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Banten menjadi kunci agar arus mudik dan arus balik Lebaran 2026 berjalan selamat, aman, lancar, dan terkendali.
Dalam paparannya, berdasarkan hasil survei yang dilakukan Kemenhub RI bersama ITB, Kementerian Komunikasi dan Informatika, dan Badan Pusat Statistik, prakiraan pergerakan masyarakat atau pemudik selama Lebaran 2026 mencapai 50,60 persen dari total penduduk Indonesia atau sekitar 143,91 juta orang.
Angka tersebut tercatat turun sekitar 1,7 hingga 1,75 persen dibandingkan hasil survei tahun 2025 yang memproyeksikan 146 juta orang melakukan perjalanan.
Namun demikian, Menteri Perhubungan mengingatkan agar penurunan dalam survei tidak membuat seluruh pihak lengah. Sebab pada Lebaran 2025, realisasi pergerakan masyarakat justru mencapai sekitar 154 juta orang, jauh di atas angka survei awal.
“Meski survei menunjukkan 143,91 juta orang, realisasinya bisa saja kurang lebih sama seperti tahun kemarin. Tahun lalu survei 146 juta, tetapi realisasinya 154 juta,” tegasnya.
Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang dapat memengaruhi lonjakan di menit-menit akhir, termasuk kebijakan perusahaan khususnya swasta kerap menetapkan jadwal cuti atau kebijakan kerja menjelang hari raya.
Dengan status sebagai daerah strategis dan pintu gerbang utama arus Jawa–Sumatera, Banten dinilai akan menjadi barometer kelancaran angkutan Lebaran nasional. Lonjakan di pelabuhan serta jalur arteri dan tol di wilayah ini berpotensi berdampak langsung pada distribusi arus kendaraan dan penumpang secara nasional.
Oleh karena itu, menurut Menhub Dudu diperlukan koordinasi lintas sektormulai dari pengelola pelabuhan, operator transportasi, aparat keamanan, hingga pemerintah daerah yanh harus diperkuat sejak dini.
“Sinergi anatara Pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Banten menjadi kunci menjadikan arus mudik dan arus balik masyarakat pada masa angkutan lebaran pada tahun 2026 agar berjalan dengan selamat, aman, lancar, dan terkendali,” imbuhnya. (red)






