Senin, Mei 25, 2026

Restorasi Lingkungan di Kulon Progo, HMP UGM Tanam 1.000 Mangrove

Diksinews, Yogyakarta – Di tengah meningkatnya ancaman abrasi dan perubahan iklim di pesisir selatan Yogyakarta, ratusan mahasiswa, pelajar, komunitas, dan masyarakat turun langsung menanam 1.000 pohon mangrove di kawasan pesisir Kulon Progo, Jangkaran,  Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (24/5/2026).

Kegiatan bertajuk “Plant Today, Protect Tomorrow” tersebut digelar oleh Universitas Gadjah Mada melalui Himpunan Mahasiswa Pascasarjana (HMP) sebagai bentuk kepedulian terhadap krisis lingkungan dan kerusakan ekosistem pesisir.

Gerakan penanaman 1.000 mangrove tersebut merupakan bagian dari inisiatif HMP Pascasarjana UGM dalam mendorong keterlibatan generasi muda terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim. Kegiatan ini melibatkan sekitar 250 peserta yang terdiri dari mahasiswa sarjana dan pascasarjana, pelajar SMA, komunitas lingkungan, hingga masyarakat umum.

Ketua Umum HMP Pascasarjana UGM, Norol Latifah, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni penanaman pohon, melainkan bagian dari gerakan moral untuk membangun kesadaran ekologis masyarakat di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata.

“Melalui aksi kecil yang dilakukan hari ini, kami berharap lahir dampak besar bagi keberlanjutan lingkungan di masa depan. Menjaga lingkungan tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat,” ujarnya.

Norol menjelaskan, keprihatinan terhadap kenaikan suhu bumi menjadi salah satu alasan utama kegiatan tersebut digelar. Ia menyebut laporan G20 tahun 2020 menunjukkan suhu global telah meningkat sekitar 1,4 derajat Celsius dan berpotensi mencapai 3,9 derajat Celsius pada tahun 2100 apabila tidak ada langkah konkret dalam mengendalikan perubahan iklim.

“Oleh karena itu, Himpunan Mahasiswa Pascasarjana UGM berinisiatif menggelar penanaman mangrove ini sebagai bentuk kontribusi nyata dalam menjaga lingkungan dan mengurangi dampak perubahan iklim,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa kegiatan tersebut sejalan dengan visi dan misi UGM dalam mendorong implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) melalui keterlibatan aktif mahasiswa dalam kegiatan yang berdampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan.

“Jika mengacu pada indikator penilaian organisasi mahasiswa di lingkungan UGM, kegiatan ini masuk dalam kategori Grade 1, khususnya pada poin Peduli Lingkungan, yaitu keterlibatan organisasi mahasiswa dalam kampanye dan aksi kepedulian lingkungan. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung indikator Publikasi dan Berita SDGs serta Publikasi Media karena membawa semangat edukasi lingkungan, kolaborasi sosial, dan keberlanjutan yang saat ini menjadi perhatian utama UGM,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Norol turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam menyukseskan kegiatan penanaman 1.000 mangrove tersebut.

“Saya sangat mengapresiasi seluruh panitia yang telah bekerja luar biasa, terutama Ketua Panitia Yovi Maulana dan Koordinator Steering Committee Rivaldi Mahardika yang juga turut menginisiasi ini, mampu mengeksekusi kegiatan ini dengan sangat baik. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh tamu undangan, sponsor, mitra kolaborasi, serta para volunteer yang telah mendukung kegiatan ini hingga berjalan sukses,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa kehadiran para relawan menjadi bukti bahwa semangat menjaga lingkungan masih tumbuh kuat di tengah masyarakat.

“Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh volunteer yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan perjalanannya untuk hadir pada kegiatan hari ini. Kehadiran teman-teman semua menjadi energi besar bagi kami bahwa semangat menjaga lingkungan masih tumbuh sangat kuat di tengah masyarakat,” katanya.

Di akhir sambutannya, Norol berharap pohon-pohon mangrove yang ditanam dapat dirawat bersama dan menjadi warisan lingkungan bagi masyarakat Kulon Progo di masa mendatang.

“Harapan kami, Pak Wakil Bupati dan seluruh pihak yang hadir, pohon-pohon yang ditanam hari ini nantinya dapat dirawat bersama dan menjadi legacy atau warisan lingkungan bagi masyarakat Kulon Progo di masa depan,” tutupnya.

Wakil Bupati Kulon Progo, Ambar Purwoko, turut mengapresiasi inisiatif mahasiswa Pascasarjana UGM dalam menjaga kelestarian lingkungan pesisir.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Universitas Gadjah Mada atas kepedulian, partisipasi, dan dukungannya dalam menjaga alam. Mudah-mudahan alam Indonesia selalu terjaga dan Indonesia menjadi negara yang lestari dengan lingkungan yang tetap terpelihara,” kata Ambar.

Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari Direktorat Kemahasiswaan UGM yang diwakili Sekretaris Direktorat Kemahasiswaan, Musthofa Anshori. Ia menilai keterlibatan mahasiswa dalam aksi lingkungan merupakan bentuk nyata implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat dan kepedulian terhadap isu keberlanjutan lingkungan.

Kegiatan ini juga menunjukkan kuatnya kolaborasi antara dunia akademik, pemerintah daerah, aparat, komunitas, dan masyarakat dalam menghadapi persoalan lingkungan secara bersama-sama. Sejumlah pihak yang terlibat di antaranya PolAirud Polda DIY, Dosen Geomatika UGM I Made Andi Arsana, Manager Kerjasama Teknik UGM Nur Abdillah Siddiq, serta NGO kepemudaan Arah Pemuda Indonesia.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Salah satu volunteer mengaku bersyukur karena kegiatan tersebut memberikan ruang bagi anak muda untuk ikut berkontribusi dalam menjaga lingkungan.

“Kami senang karena ada wadah untuk menyalurkan kepedulian terhadap alam. Keinginan menjaga lingkungan bisa diwujudkan melalui aksi nyata seperti penanaman mangrove ini,” ujar salah satu peserta.

Sambutan positif juga datang dari masyarakat setempat. Warga Jangkaran, Warso, menyampaikan rasa terima kasih atas kepedulian para peserta terhadap lingkungan desa mereka.

“Terima kasih sudah berkunjung dan peduli terhadap alam di desa kami. Mudah-mudahan upaya kecil ini bisa membawa dampak besar bagi lingkungan,” ungkapnya.

Penanaman mangrove dipilih karena tanaman ini memiliki kemampuan tinggi dalam menyerap karbon biru (blue carbon) sekaligus menjadi benteng alami untuk melindungi garis pantai dari abrasi dan kerusakan akibat perubahan iklim.

Bagi HMP Pascasarjana UGM, menanam mangrove hari ini bukan sekadar menanam pohon, tetapi juga menanam harapan agar generasi mendatang tetap memiliki pesisir yang lestari dan lingkungan yang terjaga. (rls)

Berita Terkait
- Advertisment -
jasa pembuatan website

Terbaru